Hanya Dibayar Rp75 Ribu, Ini Curhatan Pemeran Hantu Film KKN Desa Penari yang Sampai Kesurupan

D-Stories | Jumat, 20 Mei 2022 11:17

Reporter : Kurnia

gak boleh berkedip atau pun hapus makeup selama 24 jam, gimana kisah lanjutannya?

Tembus 7 juta penoton, film KKN di Desa Penari rupanya menyimpan beragam kisah dibalik proses syutingnya yang cukup panjang. Seperti yang dialami oleh salah satu pemeran figuran di film terlaris sepanjang masa itu.

Diketahui, film yang digarap MD Pictures dan juga diproduseri langsung oleh sang CEO, Manoj Punjabi itu melibatkan setidaknya 50 warga Dusun Ngluweng yang didapuk menjadi hantu dan juga warga sekitar.

Hanya Dibayar Rp75 Ribu, Ini Curhatan Pemeran Hantu Film KKN Desa Penari yang Sampai Kesurupan
2 dari total 6 halaman

Salah satunya adalah Subardo, pria paruh baya berusia 51 tahun itu mengakui juga terlibat dalam proses syuting film KKN di Desa Penari itu sebagai hantu. Menurut pengakuannya, Subardo merasakan pengalaman berbeda yang tak akan terlupakan selama hidupnya.

"Saya itu didapuk (diminta) jadi hantu. Ternyata capek ikut syuting itu," kata Subardo sebagaimana dikutip dari laman Suara.com pada Jumat, (20/5/2022).

Hanya menjadi pemeran figuran, Subardo harus rela menunggu selama 24 jam dan berjuang dengan make up yang menutup wajahnya.

3 dari total 6 halaman

Tak boleh mengahapis makeup, Subardo dan puluhan orang lainnya harus berada di dalam bus dengan AC tetap hidup agar riasan yang digunakan tidak luntur.

Kerja keras selama proses syuting, pemeran hantu di film KKN di Desa Penari itu bahkan mengaku tidak boleh berkedip dan memejamkan mata. Jika terlanjur berkedip maka syuting harus diulang kembali. Tak hanya itu, gerakan sekecil apapun ketika tidak sesuai maka akan diulang pengambilan gambarnya.

"Bayangkan mata tak boleh berkedip dalm waktu yang lama. Kami dibayar Rp 75 ribu sekali pengambilan gambar," katanya lagi.

Hantu KKN di Desa Penari © Diadona

4 dari total 6 halaman

Bikin pengalaman syuting semakin tidak terlupakan, Subardo yang saat itu berperan sebagai hanti dan warga harus melihat kru yang kesurupan.

Kesurupan pertama menimpa salah seorang kru saat syuting di rumah Ngadiyo, rumah utama film tersebut. Bahkan akibat kesurupan itu, kru harus dilarikan ke rumah sakit.

"Saya sendiri yang menunggui kru di rumah sakit. Kru itu harus dilarikan ke rumah sakit karena alami gangguan pernafasan,"terangnya.

5 dari total 6 halaman

Kesurupan kedua terjadi di Joglo Wanagama di mana lokasi pesta tarian para hantu dilakukan. Saat itu para krun dan juga figuran dalam film tersebut tengah menunggu giliran syuting mereka duduk di dekat Sendang di mana banyak sesajen diletakkan di tempat tersebut.

Masih belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan kesurupan itu terjadi. Lebih lanjut lagi, Subardo juga bercerita jika orang tuanya yang ikut andil dalam proses syuting itu juga mengalami hal mistis.

"Mertua saya saja sampai perutnya sakit. Katanya masuk angin, cuma ketika dilihat secara mistis ternyata karena gangguan makhluk halus penunggu sendang. Beliau sampai meminta bantuan orang pintar untuk menyembuhkannya," ceritanya.

Join Diadona.id