Roehanna Koeddoes, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia yang Tampil sebagai Google Doodle

Gadget | Senin, 8 November 2021 08:50

Reporter : Yoyok

Siapa sih Roehanna Koeddoes ini?

Google Doodle sering kali tampil dengan desain yang berbeda-beda para beberapa waktu. Sering kali juga Google Doodle tampil berbeda karena memperingati sesuatu.

Kali ini, Google Doodle tampil berbeda dengan desain salah satu pahlawan Indonesia. Ia adalah Roehanna Koeddoes, jurnalis pertama di Indonesia.

Roehanna Koeddoes, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia yang Tampil sebagai Google Doodle
2 dari 6 halaman

Senin (8/11/20210) merup[akan hari dinobatkannya Roehanna Koeddoes sebagai salah satu pahlawan nasional. Siapa si Roehanna Koeddoes ini?

Roehanna Koeddoes lahir pada tanggfal 20 Desember 1884 di kota kecil Koto Gadang, Sumatera Barat, Hindia Belanda (sekarang menjadi Indonesia) yang memiliki nama asli yaitu Siti Roehana. Roehanna merupakan jurnalis perempuan pertama di Indonesia.

Roehanna besar di era di mana perempuan Indonesia tidak mendapatkan pendidikan yang cukup dan formal. Roehana Koeddoes mengembangkan kecintaan membaca lewat berbagai halaman-halaman surat kabar lokal pada usia tujuh tahun.

3 dari 6 halaman

Di tahun 1911, Roehanna memulia karirnya di bidang pendidikan dan mendirikan sekolah pertama di Indonesia di kota kelahirannya. Sekolah Koeddoes didirikan untuk memberdayakan perempuan melalui berbagai program, mulai dari pengajaran literasi bahasa Arab hingga moralitas.

Roehanna juga memperluas pengaruhnya setelah pindah ke Bukittinggi, salah satu kota besar di Sumatera Barat, dengan menjadi salah satu jurnalis perempuan pertama di Indonesia.

Roehana dinilai sebagai perempuan Indonesia pertama yang secara sadar memerankan dirinya sebagai seorang jurnalis. Dia bersedia meliput berita sekaligus menulis untuk kemudian dikirimkan ke media massa.

4 dari 6 halaman

Kiprah Roehanna di dunia jurnalistik cukup geemilang. Sebelum mendirikan surat kabar Soenting Melajoe, Roehanna berkiprah di surat kabar Oetoesan Melajoe yang sudah berdiri sejak tahun 1911.

Pengalamannya mendapat apresiasi dari Datoek Soetan Maharadja alias DSM, pemilik Oetoesan Melajoe yang kemudian mendukung Roehanna menerbitkan Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912.

5 dari 6 halaman

Sepanjang karirnya di dunia jurnalistik, Roehanna terus menulis artikel yang mendorong perempuan untuk membela kesetaraan dan melawan kolonialisme, dengan beberapa karyanya mendapat pengakuan secara nasional.

Berkat kehidran seorang Roehanna Koeddoes, banyak yang menganggap perempuan dalam dunia jurnalistik Indonesia lebih kritis dan berani dari sebelumnya.

Join Diadona.id