Waspada Olahan Sayur yang Justru Bikin Badan Tidak Sehat, Emang Ada?

Reporter : Firstyo M.D.
Kamis, 18 Maret 2021 20:40
Waspada Olahan Sayur yang Justru Bikin Badan Tidak Sehat, Emang Ada?
Niat sehat, eh yang terjadi justru sebaliknya.

Beberapa waktu lalu, nama Tya Ariestya sempat ramai diperbincangkan setelah pola diet yang ia sebarkan menuai kontroversi. Dalam salah satu poin dietnya, Tya menyebut bahwa sayur dapat menghambat penurunan berat badan.

Ungkapan tersebut jadi kontroversial, sebab selama ini kita mengenal sayur sebagai makanan sehat dan sumber dari segudang manfaat. Banyak ahli pun angkat bicara soal anggapan tersebut.

1 dari 2 halaman

Contoh Olahan Sayur yang Membahayakan Kesehatan

Seorang ahli gizi, Dr. dr. Tan Shot Yen menjelaskan bahwa sayur adalah makanan yag rendah kalori sehingga tidak mungkin menjadi penyebab kegemukan, dengan catatan diolah secara benar. Pasalnya, beberapa olahan sayur ternyata justru bisa menjadi sumber masalah kesehatan, alih-alih menyehatkan.

Tan menyebut salah satu resep olahan sayur yang tidak sehat, yakni brokoli saus keju. Resep tersebut menggunakan 100 gram brokoli, 1 butir kentang, 25 gram tepung terigu, 50 gram keju cheddar parut, 250 ml susu putih, 25 gram margarin, 1 sendok teh saus tomat, seta garam dan merica secukupnya.

" Asli, ini contoh bagus kenapa makan sayur jadi gendut dan sama sekali tidak sehat," ujar Tan dikutip dari Liputan6.com.

Tan menjelaskan bahwa alasan makanan tersebut tak sehat adalah karena terlalu banyaknya kandungan produk ultra proses ketimbang brokoli sebagai sayur utama. Kedua, penggunaan tepung, saus, margarin, dan keju (fake cheese). Ketiga, secara tak langsung makanan ini mengajak orang utuk terus menggunakan trans fat.

" Padahal WHO sudah bersumpah menghapusnya per 2023," terang Tan.

2 dari 2 halaman

Perlu Peran Ahli Gizi

Tan menjelaskan bahwa perlu kerja ekstra untuk menyebar luaskan tentang makna pangan sehat yang sesungguhnya bagi bangsa Indonesia.

" Jangan sampai ahli gizi cuma reaktif dan galak saat sudah ada kejadian," ujarnya.

Menurutnya, banyak pikiran manipulatif berkembang saat ini. Seperti halnya mie instan yang dibilang lebih sehat jika dicampur beberapa irisan sayur dan telur. Padahal, cara ini tetap salah karena mi adalah makanan dalam kemasan yang melalui banyak proses.

" Sesuatu yang baik, tidak mungkin tetap baik jika lingkarannya toksik. Hal ini juga berlaku pada makanan," terang Tan.

" There is no right way to do the wrong thing. Kasihan banget literasi gizi kita. Produk ultra proses tak layak bersanding dengan produk Tuhan," pungkasnya.

 

Reporter: Ade Nasihudin Al Ansori

Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar