Arisan, Wadah Investasi atau Ajang Sosialisasi dan Adu Gengsi?

Moneytalk | Selasa, 22 Juni 2021 19:40

Reporter : Firstyo M.d.

Apa yang paling Diazens ingat kalau dengar kata arisan? Kocok dadu? Undian nama? Atau malah penggalan lirik lagu Inul Daratista?

Di Indonesia, arisan sudah jadi budaya yang mengakar dan terjadi lintas generasi. Waktu kecil, kata arisan sering terdengar sebagai kegiatan yang dilakukan oleh ibu kita. Nggak ada yang benar-benar tahu apa kegiatan yang dilakukan ibu kala itu, yang kita tahu cuma sepulang dari arisan, ibu biasanya akan membawa satu kotak berisi macam-macam kue. Akan ada bonus wajah sumringah ibu kalau beliau dapat arisan. Apa yang didapat ibu dari arisan nggak terlalu penting selama kita tahu ada kue talam, kue lumpur, dan lemper yang siap untuk disantap.

Seiring bertambahnya usia, kita akhirnya sedikit punya gambaran tentang apa itu arisan. Beberapa dari Diazens bahkan sudah aktif menjadi pesertanya, seperti yang dilakukan ibu kita dulu (uhuk, tua, uhuk). Kita juga jadi tahu, bahwa arisan adalah salah satu kegiatan yang melibatkan perputaran uang.  Namun lebih dari itu, kegiatan arisan juga punya fungsi lain untuk berosialisasi.

Hm, jadi dalam hal arisan, mana yang porsinya lebih besar, investasi atau eksistensi?

Arisan, Wadah Investasi atau Ajang Sosialisasi dan Adu Gengsi?
2 dari 7 halaman

Mengenal Arisan

Ilustrasi arisanIlustrasi arisan © ddhk.org

Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan arisan sebagai..........hm, panjang juga ya penjabarannya. Kalian bisa cek makna arisan menurut KBBI di tautan ini. Berdasarkan pemahaman penulis, secara sederhana arisan dijelaskan  sebagai kegiatan pengumpulan uang, atau harta benda lain sesuai kesepakatan, dalam satu kelompok yang akan disetor dan dibagikan secara berkala lewat undian. Mari kita 'preteli' satu per satu variabel yang ditulis tebal.

Arisan uang adalah bentuk yang paling umum, namun ada beberapa kesepakatan yang memungkinkan untuk melakukannya dengan harta benda lain sesuai kesepakatan kelompok. Geng arisan Nagita Slavina beberapa waktu lalu diketahui melakukan arisan dengan menggunakan dollar. Lain halnya dengan Girlsquad. Geng Nia Ramadhani dan Jessica Iskandar itu sempat menghebohkan jagat maya saat mereka melakukan arisan berlian. Arisan sembako jadi salah satu opsi yang juga jamak dipraktikkan. Selain itu, sebuah film Indonesia di tahun 2010 juga sempat menangkap fenomena arisan brondong yang masih sangat bisa diperdebatkan, apakah ini benar-benar ada atau murni fiksi semata?

Poster film 'Arisan Brondong' (2010)Poster film 'Arisan Brondong' (2010) © Maxima Pictures

Kelompok arisan bisa datang dari berbagai lingkar sosial tempat kita beraktivitas. Geng Nagita Slavina dan Girlsquad-nya Nia Ramadhani memilih untuk melakukan arisan bareng teman-teman yang sefrekuensi (dalam segala hal, mulai dari obrolan sampai pendapatan).  Ada pula arisan yang dilakukan oleh organisasi seperti koperasi. Namun, arisan yang paling umum biasanya melibatkan orang-orang yang berada di satu lingkup tempat tinggal, mulai dari dasawisma sampai RT/RW yang terlibat dalam kegiatan PKK.

Proses perputaran uang dalam arisan dilakukan secara berkala, biasanya setiap satu bulan. Peserta yang tergabung dalam kelompok arisan akan menyetorkan sejumlah uang yang nantinya akan diberikan kepada pemenang arisan di bulan tersebut. Proses pembagian jadi bagian yang paling seru dari arisan, yakni lewat undian dadu atau gulungan kertas berisi nama. Walaupun arisan melibatkan proses undian yang mengandalkan keberuntungan, namun kegiatan ini sama sekali berbeda dengan judi karena peserta nantinya akan mendapatkan giliran untungnya masing-masing, nggak bakal ada yang rugi. Pola tersebut akan selalu berulang dan berakhir saat semua peserta sudah mendapat giliran menang arisan.

3 dari 7 halaman

Arisan Cuma Ada di Indonesia?

Ilustrasi arisanIlustrasi arisan © enimekspres.co.id

Kegiatan arisan di Indonesia memang sudah sangat mengakar. Rasanya sulit untuk nggak menyebutnya sebagai salah satu bentuk budaya. Meski begitu, ternyata arisan adalah sebuah kegiatan yang berdasarkan pada ilmu ekonomi. Konsep ekonomi dalam arisan disebut sebagai 'rotating savings and credit association' atau disingkat (ROSCA). Penamaannya sendiri diambil dari cara kerja arisan, yakni terjadinya rotasi penyimpanan dan peminjaman uang.

Lho, kok ada nama Bahasa Inggrisnya? Berarti arisan nggak cuma ada di Indonesia dong?

Yak, betul sekali. Penerapan ROSCA dengan nama arisan memang cuma terjadi di Indonesia, tapi kegiatan serupa juga dilakukan oleh banyak orang di berbagai belahan dunia. Arisan disebut sebagai 'kye' di Korea Selatan, lalu 'cundinas' (Meksiko), 'stokvel' (Afrika Selatan), 'tanomoshiko' (Jepang), dan masih banyak lagi. Jadi, nggak cuma Bu Joko dan Bu Ridwan yang melakukan arisan bersama ibu-ibu PKK lain di Indonesia, Misae mamanya Shinchan juga melakukan tanomoshiko bareng mamanya Nene, Bo, Masao, dan Kazama.

Sugoi!

4 dari 7 halaman

Arisan untuk Investasi

Ilustrasi arisanIlustrasi arisan © Shutterstock

Arisan adalah wujud irisan dari kegiatan investasi dan sosialisasi. Kalau ditanya poin mana yang porsinya lebih besar, maka jawabannya relatif. Arisan yang terjadi di tataran masyarakat akar rumput menjadikan faktor ekonomis sebagai motivasi utama mengikuti arisan, sedangkan kegiatan kumpul-kumpul adalah pelengkap.

Kondisi ini bisa terlihat dari bagaimana para peserta arisan menggunakan wadah tersebut sebagai sarana menabung dan lembaga keuangan informal, terutama di tingkatan masyarakat yang masih tradisional dan tak menjadikan bank sebagai tempat menabung prioritas. Fenomena ini ditangkap oleh Achmad Baihaki dan Evi Malia dari Universitas Islam Madura. Lewat penelitian yang dimuat dalam 'Jurnal Akuntansi Multiparadigma' ditemukan bahwa masyarakat di Madura menjadikan arisan sebagai tempat menabung untuk menghindari tersebarnya uang bulanan tanpa ada wujud yang jelas.

Layaknya bank, beberapa kelompok arisan memiliki kebijakan yang membuat perputaran uang jadi lebih fleksibel. Salah satu yang kerap terjadi adalah ketika ada peserta arisan yang sedang membutuhkan dan meminta jatah untuk menang arisan lebih dulu tanpa undian. Penarikan uang tanpa lewat jalur yang seharusnya seperti ini menjadi privilese untuk arisan yang sifatnya kekeluargaan sehingga segala kebutuhan rasanya bisa dibicarakan. Tentu dengan catatan, jika sudah mengambil uangnya lebih dulu, maka peserta yang bersangkutan akan dianggap sudah menang dan nggak dapat kesempatan lagi di periode selanjutnya. Kekeluargaan, tapi tetap tegas.

5 dari 7 halaman

Ilustrasi arisanIlustrasi arisan © Shutterstock

Kegiatan arisan juga menjadi ladang investasi yang mendukung kehidupan masyarakat setempat. Dalam penelitian yang sama, warga pemenang arisan cenderung akan membelanjakan uangnya untuk membeli barang-barang bernilai investasi, salah satunya adalah sapi ternak. Arisan jadi momentum untuk seseorang mendapatkan modal langsung dalam jumlah besar, sehingga seiring berjalannya waktu, sapi yang dibeli telah menggemuk dan menghasilkan rupiah dalam jumlah yang menggulung. Tentu sapi di sini cuma jadi salah satu contoh, pada praktiknya, pemenang arisan di kota-kota besar yang tak lagi hidup dari bertani atau beternak juga melakukan hal yang sama, misal menggunakan uang arisan untuk biaya membuka usaha kuliner.

Di samping arisan dengan bentuk uang, arisan barang juga kerap dilakukan. Achmad Baihaki dan Evi Malia dalam jurnalnya menemukan bahwa arisan barang dirasa membantu karena dapat menjadi alat investasi dan mengurangi dampak inflasi. Arisan barang umumnya dilakukan dalam jangka waktu yang tak terlalu lama. Barang-barang yang dilibatkan biasanya berhubungan dengan kebutuhan pokok sampai barang elektronik. Beberapa koperasi biasanya juga mengadakan arisan menggunakan voucher belanja yang bisa dimanfaatkan untuk belanja di toko yang dikelola koperasi itu sendiri.

Secara posisi, arisan barang dianggap melengkapi kebutuhan yang tak tertutupi dari arisan uang. Namun pada intinya, kedua jenis arisan ini memiliki peran yang sangat tinggi terhadap keuangan masyarakat, terutama di level akar rumput.

6 dari 7 halaman

Arisan Sosialita

Diadakannya arisan nggak cuma terjadi di daerah-daerah kecil, namun juga dilakukan oleh mereka yang tinggal di kota besar. Bedanya, arisan ala masyarakat urban seperti tak terlalu memikirkan aspek ekonominya dan lebih condong pada kesenangan kumpul-kumpulnya. Fungsi arisan pun kemudian bergeser, nggak lagi menjadi tempat untuk berinvestasi, tapi lebih pada tujuan sosialisasi bareng rekan sejawat. Arisan sosialita, begitu publik mengenalnya. Contohnya banyak tersebar di media sosial. Para selebriti papan atas kerap terlihat mengunggah momen kebersamaan mereka dengan sesama pesohor saat berkumpul dalam tajuk arisan.

Di awal artikel, penulis sudah menyebutkan dua contoh yang paling dikenal, yakni arisan oleh geng Nagita Slavina dan Girlsquad. Obyek yang dilibatkan dalam kedua arisan tersebut bukanlah alat tukar utama, pun juga bukan kebutuhan pokok. Geng Nagita Slavina memilih arisan dengan nominal dollar, sementara Girlsquad meggunakan perhiasan berlian alih-alih uang. Lokasi mewah juga menjadi sorotan utama dari acara yang mereka adakan. Tentu hal ini sudah sangat jauh berbeda dengan posisi arisan di level masyarakat umum.

Arisan GirlsquadArisan Girlsquad © youtube.com/Jessica Iskandar

Berbeda dengan arisan biasa yang berangkat dari motivasi ekonomi, arisan sosialita terbentuk karena adanya kedekatan dan persamaan dalam berbagai faktor dari para anggotanya. Kedekatan emosional, persamaan selera, persamaan status sosial, dan masih banyak lagi. Tokoh sosiologi Pierre Bourdieu mengatakan bahwa konsumsi yang meliputi tanda, simbol, ide dan nilai dapat digunakan sebagai cara memisahkan satu kelompok sosial dengan kelompok sosial yang lain. Dengan kata lain, arisan sosialita adalah bentuk upaya menjaring legitimasi dari masyarakat akan status sosial mereka.

Siapa yang dapat arisan bisa jadi sudah nggak terlalu penting lagi karena fokus utamanya adalah untuk berkumpul dengan orang-orang setingkatan. Ibarat berkumpul dengan penjual ikan ikut kena bau amisnya, berkumpul dengan pedagang parfum dapat wanginya, maka berkumpul lah mereka dengan sesama sosialita agar semakin terlihat posisinya di masyarakat.

7 dari 7 halaman

Sekilas, arisan sosialita terdengar seperti kegiatan yang penuh dengan aura arogansi. Ya, kalau sebagai orang yang statusnya nggak sampai buat masuk ke wadah tersebut sih mungkin demikian, karena segala anggapan kita hanya berangkat dari asumsi semata. Lagipula, pasti ada juga kelompok yang merasa bahwa arisan bukan wadah yang tepat untuk berinvestasi, seperti kita merasa arisan bukan tempatnya saling adu gengsi.

"Investasi kok di arisan!"
"Arisan kok buat sombong-sombongan!"
Dan seruan adu benar lainnya.

Pada akhirnya, semua akan kembali pada kondisi dan tujuan masing-masing. Ingin menata keuangan tapi kurang ilmu dalam hal perbankan dan produk investasi seperti saham atau reksadana? Melakukan investasi lewat arisan bisa jadi pilihan sembari kita menimba ilmu lebih. Kalau kondisi ekonomi sudah stabil dan cuma ingin punya agenda rutin biar bisa kumpul-kumpul sama teman? Menggelar arisan untuk jadi wadah sosialisasi juga nggak masalah.

Kalau Diazens pilih yang mana, arisan untuk investasi atau sosialisasi?

Terkait
Join Diadona.id