Mengenal Gaslighting, Bentuk Manipulasi Psikologi yang Terjadi dalam Hubungan

Relationship | Kamis, 3 Juni 2021 15:40

Reporter : Yoga Tri Priyanto

Kenali tanda-tanda gaslighting dalam hubungan. Jangan-jangan kamu salah satu korbannya.

Mencari tahu tentang kepribadian pasangan adalah sebuah hal yang perlu dilakukan sebelum hubungan berlanjut ke tahap yang lebih serius. Hal ini dapat membuat kita lebih merasa yakin, apakah benar dia yang akan dipilih?

Selain itu, tahap perkenalan juga penting untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Misal, jika ternyata pasangan kita adalah seorang gaslighter.

Mengenal Gaslighting, Bentuk Manipulasi Psikologi yang Terjadi dalam Hubungan
2 dari 7 halaman

Apa Itu Gaslighting?

Gaslighting merupakan salah satu bentuk tindakan manipulasi yang dilakukan terus menerus hingga membuat korban mempertanyakan dirinya sendiri.

Terminologi gaslighting sendiri diambil dari sebuah film berjudul 'Gaslight' yang dirilis pada 1944. Film tersebut berkisah tentang seorang suami yang terus-menerus menyebut sang istri sebagai sosok yang kejiwaannya terganggu, membuat tokoh istri mempertanyakan kondisi diri dan kenyataannya.

Oxford Dictionary menerjemahkan gaslight sebagai upaya manipulasi psikologi yang membuat seseorang sulit membedakan hal yang nyata dan tidak. Saat korban gaslighting terus disebut mengalami gangguan jiwa, lama-kelamaan ia akan mempertanyakan kondisi kejiwaannya, merasa tuduhan yang dilontarkan gaslighter sebagai hal yang patut dipertimbangkan.

3 dari 7 halaman

Bagaimana Gaslighting Terjadi?

Ilustrasi pasangan bertengkarIlustrasi pasangan bertengkar © Shutterstock

Gaslighter akan menggunakan teknik yang dapat merusak persepsi korban akan kenyataan. Berkomunikasi dengan gaslihgter akan menimbulkan banyak keraguan, pertanyaan, dan kecemasan.

Hal seperti ini lama-lama akan membuat korban mempertanyakan kewarasannya. Dikutip dari Very Well Mind, berikut ini adalah beberapa tindakan yang biasa dilakukan oleh seorang gaslighter.

1. Berbohong

Seorang gaslighter akan mencari segala cara untuk tetap terlihat benar, bahkan jika harus dengan kebohongan sekalipun. Alih-alih mengaku, seorang gaslighter justru akan menyerang balik saat kebohongannya dibongkar. Ia juga akan menutupi kebohongan tersebut dengan kebohongan lain yang terus bertingkat, memunculkan keraguan pada diri korban akan fakta sesungguhnya.

2. Mendiskreditkan

Seorang gaslighter cenderung membungkus sebuah kebohongan yang merendahkan dengan tindakan yang seolah terlihat menunjukkan kepedulian. Saat bersama korban, ia akan berpura-pura khawatir, sementara di luar ia menyebarkan rumor dan kebohongan tentang betapa tidak stabil atau terganggunya jiwa dari korban gaslight.

4 dari 7 halaman

3. Mengalihkan kesalahan

Saat kamu mengetahui apa yang dilakukan oleh seorang gaslighter dan mencoba mepertanyakan kebenarannya, ia cenderung tak menjawabnya secara langsung. Ketimbang menjawab pertanyaan, ia justru akan merespon dengan balik bertanya.

4. Membalikkan fakta

Berkaitan dengan poin nomor tiga, seorang gaslighter akan menjawab tuduhan dengan pemutarbalikan fakta. Setiap diskusi akan dipelintir, membuat korban selalu berada di posisi bersalah.

5. Mengecilkan perasaan orang lain

Menunjukkan emosi adalah hal yang memancing seorang gaslighter untuk memanipulasi korban dengan lebih parah. Korban akan dianggap terlalu serius saat marah, terlalu sensitif saat menangis, dan terlalu melebih-lebihkan saat merasa tidak terima akan sesuatu. Segala hal ini merupakan bentuk pengecilan perasaan oleh gaslighter yang membuat korban jadi merasa serba salah.

5 dari 7 halaman

6. Menggunakan kata-kata manis

Saat seorang gaslighter terpergok salah oleh korban dan tak menemui cara lain untuk berkelit, ia akan menggunakan kata-kata manis untuk melunakkan situasi. Berbagai rayuan dilontarkan dengan tujuan korban terenyuh, padahal kalimat-kalimat itu dilontarkan tanpa ketulusan dan semata hanya untuk terhindar dari kesalahan.

7. Mengubah konteks percakapan

Gaslighter memiliki kecenderungan untuk berkelit saat merasa terpojok. Ia akan mendadak berubah jadi sosok yang sangat memperhatikan diksi, kata per kata, semata untuk menemukan celah sehingga dapat menariknya ke konteks yang berlainan arah dan menguntungkan dirinya.

8. Tak mengakui kesalahan

Tujuh poin pemaparan di atas terjadi karena satu hal: seorang gasligter tidak pernah mau menagkui bahwa ia adalah bagian dari sebuah kesalahan.

6 dari 7 halaman

Tanda-tanda yang Dirasakan Korban Gaslighting

Ilustrasi pasangan bertengkarIlustrasi pasangan bertengkar © Shutterstock

Ada beberapa hal yang menunjukkan bahwa dirimu adalah korban gaslighting. Dikutip dari buku 'The Gaslight Effect: How to Spot and Survive the Hidden Manipulation Others Use to Control Your Life' karangan Robin Stern, Ph.D. via Healthline, setidaknya ada 13 tanda yang menunjukkan kamu adalah korban gaslight. Tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

1. Tak merasa dirinya sama seperti dulu

2. Merasakan kecemasan berlebih dan penurunan percaya diri

3. Sering mengira diri terlalu sensitif

4. Merasa apapun yang dilakukan salah

5. Merasa jadi sumber masalah

6. Terlalu sering minta maaf

7. Merasa ada yang salah tapi tidak bisa mengidentifikasi penyebabnya

8. Sering mempertanyakan sesuai tidaknya tindakan yang diambil pada pasangan

9. Memaklumi kebiasaan pasangan

10. Menghindari pemberian informasi pada teman atau keluarga untuk menghindari konfrontasi dari pasangan

11. Merasa terasing dari teman dan keluarga

12. Merasa semakin kesulitan dalam mengambil keputusan

13. Merasa kehilangan harapan dan kenikmatan dari hal yang biasanya senang dilakukan

7 dari 7 halaman

Cara Mengatasi Gaslighting

Ilustrasi perempuan bebasIlustrasi perempuan bebas © Shutterstock

Terjebak dalam hubungan bersama gaslighter adalah sebuah kondisi yang sulit untuk korban. Butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa kita sedang dipermainkan oleh pasangan yang merupakan seorang gaslighter.

Untuk dapat lepas dari posisi tersebut, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengamini situasi sebagai korban gaslighter. Dengan lebih dulu menerima kondisi tersebut, akan lebih mudah bagi korban untuk menerima masukan dalam menghadapi sumber masalah, yakni gaslighter itu sendiri.

Setelah cukup mencari ruang, berkonsultasi dengan ahli kejiwaan juga dapat diambil sebagai opsi. Jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog, psikiater, atau terapis. Mereka dapat membantu korban untuk memulihkan diri lewat jalur yang lebih ilmiah dan logis.

Terakhir, meninggalkan pasangan yang merupakan seorang gaslighter adalah pilihan yang dianjurkan. Tak perlu lagi memberi pemakluman atau berharap pelaku akan berubah. Masih ada banyak orang di luar sana yang peduli denganmu. Kamu juga punya hak untuk hidup bahagia.

Join Diadona.id