Pernikahan Terancam Gara-gara Suami CLBK Lewat Grup WhatsApp Alumni

Relationship | Selasa, 31 Agustus 2021 18:40

Reporter : Firstyo M.d.

Curhatan seorang Diazens tentang kisah hubungannya dengan sang suami yang tengah dilanda krisis gara-gara nostalgia di grup WhatsApp alumni. Bagaimana kisahnya?

Halo, Dokter Dona. Perkenalkan, saya Nana, seorang perempuan berusia 33 tahun. Saya adalah salah satu pembaca setia Diadona.id. Saya juga sangat senang dengan munculnya rubrik Dokter Dona ini karena akhirnya saya bisa menuangkan salah satu uneg-uneg saya beberapa waktu ke belakang.

Saya adalah seorang istri. Saya dan suami sudah menikah selama empat tahun, masih berdua saja karena memang kami sepakat untuk nabung dulu dan baru akan usaha untuk punya momongan di tahun ke lima; tahun depan.

Usia saya dan suami sepantaran, kami bahkan sudah berteman sejak SMP, sebelum akhirnya memutuskan untuk pacaran semasa kuliah. Bisa dibilang, kami sudah sangat paham dengan segala perjalanan masing-masing, mulai bodohnya masa muda sampai kini dewasa dan memutuskan hidup bersama.

Menikahi teman lama membuat perjalanan cinta saya sekilas terdengar sangat ideal. Orang-orang di sekeliling menyetujui hal ini. Mereka memberi cap 'couple goals' untuk kami. Saya sendiri juga sangat senang dengan hubungan yang saya jalin dengan suami karena kedekatan yang sudah kami bangun sejak masih sangat muda. Rasanya ikatan kami sudah sangat erat dan nggak mungkin terlepas.

Pernikahan Terancam Gara-gara Suami CLBK Lewat Grup WhatsApp Alumni
2 dari 7 halaman

Semuanya berlangsung menyenangkan, sampai akhirnya masalah tiba. Berawal dari pertemuan kami dengan salah satu teman SMP yang kami sama-sama kenal waktu kami sedang ada di sebuah kafe. Kami mengobrol sejenak, tentu memori masa muda ikut jadi topik. Di ujung obrolan, si teman mengatakan kalau angkatan kami punya satu grup WhatsApp yang digunakan untuk menyambung silaturahmi. Ia membagikan direct link agar kami bisa langsung bergabung.

Saya merasa sudah punya terlalu banyak grup sehingga memutuskan untuk nggak join, sementara suami saya tetap masuk ke dalam grup tersebut. Dia izin ke saya dan saya memperbolehkan. "Nggak apa-apa lah, kan kalau kepo bisa numpang ngintip lewat hape suami," begitu pikir saya. Suami pun nggak keberatan dengan hal tersebut.

Ilustrasi pasangan selingkuhIlustrasi pasangan selingkuh © Shutterstock

Ternyata keputusan saya itu jadi sumber malapetaka. Sejak masuk grup, intensitas ber-handphone suami saya jadi meningkat. Dia sering banget kelihatan asyik sendiri, yang kalau saya tanya, grup alumni SMP lah yang jadi sumbernya. Bukan hal besar, karena saya juga happy lihat suami happy.

Namun, asyik sendirinya suami saya dengan grup alumni itu ternyata cuma awal dari sumbu sebuah bom yang perlahan-lahan mendekati pangkal dan akan meledak. Selain senang karena kumpul dengan teman lama, sumber bahagia lain suami saya ternyata lebih spesifik lagi, yaitu keberadaan mantan pacar masa SMP-nya di grup tersebut. Saya bahkan mendapat laporan dari salah satu teman yang tergabung dalam grup. Ia memberitahu kalau suami saya selalu kelihatan aktif di grup saat si mantan pacar muncul. Belum lagi dukungan dari teman-teman lain di grup yang malah nge-ciye-ciye-in mereka.

3 dari 7 halaman

Sebagai info, saya memang satu SMP dengan suami saya, tapi saat itu kami cuma sekedar tahu nama. Berbanding terbalik, suami saya dan mantannya merupakan salah satu pasangan yang cukup populer di sekolah di masa itu. Riwayat ini ditambah dengan informasi yang saya baru ketahui membuat saya sakit hati. Apalagi, saya baru dapat fakta kalau obrolan suami saya dengan mantannya nggak cuma terjadi di grup, tapi mulai beranjak ke personal chat. Saya tahu hal ini karena nggak sengaja lihat notifikasi waktu suami meninggalkan hapenya tergeletak.

Saya sangat kecewa, tapi juga nggak bisa langsung marah karena sikap suami ke saya masih tetap sama. Dia tetap baik seperti biasa. Tapi perasaan sulit dibohongi, saya nggak bisa lihat dia dengan cara yang sama. Posisi saya saat ini masih menimbang-nimbang, apakah akan langsung buka obrolan dengan suami atau sabar menunggu sampai ujung dari masalah ini kelihatan. Yah, walaupun harus berkorban hati.

Di sini saya nggak minta solusi, tapi setidaknya saya berharap bisa dapat sedikit sudut pandang baru dari Dokter Dona. Jadi, tolong tanggapi curahan hati saya ini ya, Dok. Mohon maaf kalau terlalu panjang. Terima kasih sudah memberi wadah untuk bercerita.

Salam.

4 dari 7 halaman

Tanggapan Dokter Dona

Hai Nana, terima kasih banyak karena sudah jadi Diazens yang setia. Terima kasih juga karena telah sudi membagi keluh kesahmu lewat rubrik ini.

Well, masalah yang kamu hadapi agaknya terasa sangat kompleks ya? Sesuai permintaanmu, Dokter Dona nggak akan memberikan solusi, tapi akan memberi sudut pandang, yang tentu saja subyektif, terhadap hal tersebut. Semoga kamu berkenan membaca dan menerimanya ya.

Grup alumni memang jadi pisau bermata dua. Di satu sisi bagus untuk menyambung silaturahmi, di sisi lain berbahaya kalau silaturahminya terlalu dalam, apa lagi untuk yang sudah menikah.

Selain itu, grup alumni mungkin jadi produk teknologi yang paling mendekati mesin waktu. Mau setua apapun usia kita, begitu masuk ke grup alumni SMP, pasti perilaku para penghuninya langsung berubah kayak anak SMP lagi. Yah, salah satunya kelihatan dari gimana mereka nge-ciye-ciye-in suami Nana dan mantannya.

5 dari 7 halaman

Kemungkinan, suami Nana sedang ada di fase terjebak dengan nostalgia masa lalu. Satu hal yang harus diakui, bisa jadi memori tentang masa pacarannya memang menyenangkan. Butuh hati yang sangat lapang untuk bisa menerima fakta ini.

Kalau menurut Dokter Dona, mengenang pacar masa lalu itu nggak jauh beda dengan yang terjadi saat kita mengenang hal-hal lampau lain seperti game retro. Melihat Mario Bros di masa sekarang memang rasanya menyenangkan karena kita seperti dibawa ke masa-masa tersebut. Tapi coba deh mainkan lagi, seberapa lama sih mata kita betah melihat gambar-gambar berteknologi rendah di era grafis canggih ini? Ujung-ujungnya pasti kita akan kembali memainkan game-game masa kini, entah di smartphone, komputer, atau konsol.

Nggak ada yang abadi di dalam sebuah nostalgia. Lambat laun rasa manisnya akan habis, terkikis, sampai akhirnya kita kembali ke realita. Suami Nana saat ini pasti cuma terjebak di hal-hal menyenangkan seputar mantannya, sampai-sampai dia lupa kalau ada hal lebih besar yang bikin mereka berpisah.

6 dari 7 halaman

Ilustrasi pasangan ngobrolIlustrasi pasangan ngobrol © Shutterstock

Dokter Dona merasa speak up bisa jadi jalan terbaik, mengingat posisi Nana dan suami adalah pasangan sah yang perlu keterbukaan lebih. Rasanya, sudah bukan masanya untuk memendam-mendam perasaan lagi di dalam sebuah pernikaahn. Sebisa mungkin, hal-hal krusial diperbincangkan. Tentu perlu diingat kalau tujuan obrolan adalah untuk membawa hubungan kembali ke jalurnya, bukan semata-mata untuk menimbulkan percik pertengkaran. Jadi, tetap ingat untuk jaga emosi ya.

Dokter Dona sangat berharap agar pernikahan Nana dan suami bisa kembali kondusif. Semoga permasalahan ini bisa segera terselesaikan dengan baik ya.

Good luck, Nana!

Join Diadona.id